Rabu, 07 September 2011

 BARAPAN KEBO



Barapan Kebo ( bhs. Sumbawa ) berarti Balapan Kerbau,   merupakan suatu permainan tradisional masyarakat Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat yang dilaksanakan awal musim tanam tiba, dimana permainan ini dilakukan diareal persawahan yang dipenuhi oleh lumpur yang baru saja dibajak dengan genangan air sebatas lutut.
Uniknya dalam barapan kebo ini satu pasang kerbau (dua ekor) dilepas sendiri-sendiri yang dengan seorang joki/penunggang pada alat yang disediakan untuk membawa kerbaunya berlari ke garis finish untuk menjatuhkan tonggak (bahasa Samawa: Saka) dan sebuah patung kecil yang tertancap di lumpur di garis finish, namun jangan dikira itu pekerjaan gampang untuk menjatuhkan tonggak, karena pada permainan ini terdapat juga unsur magisnya adu ilmu antara sandro (dukun) satu dengan lainnya, dimana terkadang saat menjelang finish kerbau dan joki melenceng/berbelok jauh dari tonggak atau sang joki terpental dari kerbaunya, bahkan yang lebih fantastis lagi menjelang garis finish sang kerbau tidak bisa lari bahkan tertidur di lumpur atau tanduk kerbau bisa copot/patah tanpa sebab disamping kecepatan kerbau tetap diberi nilai.
Menurut ahlinya tidak semua kerbau dapat menjadi kerbau aduan, karena harus memiliki ciri-ciri khusus seperti pada jenis tanduknya, bentuk tubuhnya, pusaran pada bulunya bahkan cara berjalannyapun menjadi perhatian dan ini membutuhkan waktu yang lama untuk mencari diantara kerbau-kerbau peliharaan yang ada, namun apabila sepasang kerbau yang sudah menjuari perlombaan secara otomatis akan mengangkat status sosial  pemiliknya tentu berikut sandro/ dukunnya bahkan kerbau tersebut nilai jualnya  bisa tiga atau empat kali lipat harga jual dari kerbau peliharaan lainnya dan itupun tidak akan dijual oleh pemiliknya karena sebagai simbol status sosial tadi.

»»  Selengkapnya
C I D O M O


                Cidomo adalah merupakan sarana transportasi yang bisa kita jumpai di Lombok dan Sumbawa, dimana kata CIDOMO sendiri berasal dari singkatan Cikar Dokar dan Mobil yang merupakan kombinasi transportasi yang didesain dari gabungan tiga unsur tranportasi lainnya yakni badan kendaraan tersebut dari Cikar, atap dan kuda dari Dokar/Bendi dan rodanya digunakan ban mobil.
                Di Lombok untuk angkutan tradisional dikenal pula angkutan dengan nama DOKAR dimana badannya agak ramping cukup untuk 4 orang dan rodanya agak tinggi terbuat dari kayu jati dan tetap menggunakan penarik kuda. Namun karena sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan akan transportasi yang efisien dan nyaman maka didesainlah Cidomo tersebut karena dengan kendaraan ini dapat mengangkut 6 – 8 orang ditambah lagi barang bawaan dari pasar atau sawah  dan rodanyapun agak nyaman kerana menggunakan ban mobil yang memiliki daya lentur baik sehingga benar-benar menjadi kendaraan yang efektif dan efisien di pedesaan bahkan tidak jarang pula kita jumpai di kota.
                Namun seiring dengan perkembangan tehnologi dan modernisasi serta meningkatnya perekonomian masyarakat terlebih dengan beraneka ragam kendaraan baik roda 2 maupun roda 4 yang terjangkau untuk memilikinya maka kendaraan ini sudah perlahan-lahan mulai berkurang penggunaanya di pedesaan maupun di kota,
                Yang patut kita banggakan adalah Cidomo merupakan  kendaraan exclusive yang ada di 3 (tiga) Gili  ( Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air ), karena sesuai dengan peraturan yang dibuat oleh masyarakat setempat bahwa tidak diperboleh kendaraan bermesin Mobil dan Sepeda Motor di tiga Gili tersebut demi kenyamanan dan kebersihan lingkungan agar dapat dinikmati oleh Wisatawan.
»»  Selengkapnya